Shallom.....

Kami mengucapkan selamat datang kepada Anda yang baru pertama kali hadir di blog ini. Kami juga mengucapkan terima kasih atas kesediaan Anda untuk melihat http://anaksekolahminggu.blogspot.com. Adapun harapan kami adalah blog ini semakin berkembang untuk Kemuliaan Tuhan Yesus saja. Kami sangat mengharapkan dukungan dan ide-ide yang Anda miliki untuk memajukan blog ini. Terima Kasih. Tuhan Yesus Memberkati Anda

Selasa, 02 Maret 2010

Perjuangan Pohon Bambu

Tidak dikenal

Pada suatu waktu aku merasa sangat jenuh dan bosan dengan kehidupan ini dan ingin berhenti dari semuanya, berhenti dari pekerjaan, hubungan, spiritual... dan berhenti untuk hidup.

Aku pergi ke tengah hutan dan ingin berbicara untuk yang terakhir kalinya dengan Sang Pencipta.

"Tuhan, mohon berikan saya satu alasan untuk tetap hidup dan berjuang?"
Ternyata jawaban Maha Pencipta yang Agung sangat mengejutkan....

"Lihat di sekelilingmu, apakah kamu melihat tanaman Semak dan pohon Bambu?
"Ya," jawabku.
Yang Maha Pencipta mulai bertutur:

"Saat aku menanam benih Semak dan Bambu, aku memelihara mereka dengan sangat baik dan hati-hati. Aku memberi mereka sinar matahari, menyirami dengan air seadil-adilnya. Tanaman Semak tumbuh dengan sangat cepat. Daun-daunnya yang hijau tumbuh rimbun sampai menutupi tanah disekelilingnya. Sedangkan benih Bambu belum memperlihatkan apapun.
Tetapi aku tidak menyerah dan tetap memelihara mereka dengan baik dan adil. Pada Tahun ke-2, tanaman Semak tumbuh makin subur, rimbun dan makin bertambah banyak. Tetapi, benih Bambu tetap belum memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan.

Pada tahun ke-3, benih Bambu masih sama seperti sebelumnya. Tetapi, tetap Aku tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke-4 masih sama saja. Aku bertahan untuk tidak menyerah.

Kemudian, pada tahun ke-5, tunas kecil mulai muncul dari benih bambu. Jika dibandingkan dengan tanaman semak, tunas ini sangat kecil dan sepertinya tidak sebanding dengan tanaman semak.
Tetapi 6 bulan kemudian pohon Bambu tumbuh hingga mencapai ketinggian 100 kaki.
Ternyata Bambu menghabiskan waktu 5 tahun untuk menumbuhkan dan menguatkan akarnya. Akar-akar tersebut membuat Bambu menjadi sangat kuat sehingga kokoh menghadapi keadaan alam yang berubah-ubah. Bahkan pohon Bambu sangat berguna untuk kehidupan.
Aku tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat dari kemampuannya kepada ciptaanku."
Aku terdiam. Menyimak baik-baik.

"Anakku, apakah kamu sadar, selama ini kamu telah berjuang dan memperkuat akar? Aku tidak menyerah saat menanam benih dan memelihara pohon Bambu, begitu juga denganmu. Jangan membandingkan dirimu dengan yang lain. Bambu mempunyai fungsi yang berbeda dengan Semak, tetapi tetap mereka membuat hutan menjadi indah. Waktumu akan tiba dan kamu akan tumbuh dengan tinggi."

"Tetapi, seberapa tinggi saya harus tumbuh?" tanyaku.
Maha Pencipta menjawab: "Seberapa tinggi pohon Bambu tumbuh?"
"Apakah setinggi kemampuan dan usahanya?" tanyaku lagi
"Benar Anakku. Berusahalah sebaik dan semaksimal mungkin."
Kemudian aku pergi meninggalkan hutan dengan membawa kisah ini. Aku harap kisah ini dapat membantumu melihat bahwa Tuhan tidak pernah menyerah untukmu.

Jangan pernah menyesali setiap hari dalam hidupmu. Hari-hari yang baik memberi kebahagiaan; hari-hari yang buruk memberi pengalaman tak ternilai; keduanya sangat berharga.

Senin, 01 Maret 2010

Anak yang suka berteriak "Serigala!"

diceritakan kembali oleh Judy Hamilton

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang anak gembala di sebuah desa kecil di pegunungan. Tugasnya adalah menjaga ternak milik penduduk desa, setiap hari membawa domba-domba itu ke padang rumput dan jika hari sudah senja menggiring domba itu kembali ke kandangnya. Pada musim panas gembala itu harus membawa domba-domba ke padang rumput yang lebih tinggi di atas gunung, tetapi malam harinya demi keselamatan ia tetap harus membawa domba itu kembali ke desa; di pegunungan itu banyak serigala yang akan menerkam domba-domba yang masih berkeliaran di padang rumput pada malam hari.
Si gembala sangat menyukai pekerjaannya, tetapi kadang-kadang ia merasa kesepian karena seharian berada di gunung tanpa teman.
Pada suatu hari di akhir musim panas, si gembala duduk di antara domba-dombanya di atas rumput gunung yang hijau, sambil mengamati desa yang terletak di bawahnya. Ia dapat melihat anak-anak, yang kelihatannya sangat kecil, sedang bermain-main di lapangan desa. Ia dapat melihat perempuan-perempuan yang sedang sibuk mempersiapkan hari pasar. Dan ladang di luar desa dilihatnya orang-orang sedang bekerja keras menjaga panenan yang sudah hampir dapat dituai. Setiap orang mempunyai teman untuk diajak bercakap-cakap atau bekerja. Dari semua penduduk desa, si gembalalah satu-satunya yang harus bekerja sendirian. Rasanya tidak adil.
Ia melihat berkeliling ke arah domba-domba yang sedang memakan rumput dengan tenang. Ia menyayangi domba-domba itu, tapi mereka tak dapat diajak bercakap-cakap atau membuatnya tertawa.
Si gembala merasa sangat bosan. Tak pernah ada kejadian yang menarik. Seandainya saja di pegunungan itu ada serigala, tapi seekor pun tak pernah terlihat. Sudah lama sekali serigala tidak kelihatan di situ......
Tiba-tiba si gembala mendapat ide. Ia tahu bagaimana caranya membuat segala sesuatu menjadi lebih hidup. Ia melompat lalu lari ke lereng gunung ke arah desa. Sambil menarik napas dalam-dalam, tangannya dibuat menjadi corong di mulutnya, lalu ia pun berteriak sekencang-kencangnya: "SERIGALA! SERIGALA!"
Jauh di bawah, orang-orang desa mendengar teriakan gembala dan menjadi panik. Setiap orang segera berhenti bekerja. Pekerja-pekerja di ladang mengumpulkan tajak dan penggaruk mereka untuk digunakan sebagai senjata. Perempuan-perempuan mengambil sapu mereka. Anak-anak membawa tongkat untuk dilambai-lambaikan. Kemudian seisi desa bergegas ke lereng gunung untuk membantu si gembala.
Hari itu sangat panas dan gunung itu sangat curam, tetapi penduduk desa memanjat secepat mungkin. Ketika mereka sampai di padang rumput, mereka mencari-cari serigala tapi tak dapat menemukan seekor pun. Domba-domba sedang merumput dengan tenang, dan si gembala tertawa terbahak-bahak.
Ketika menyadari bahwa mereka ditipu oleh gembala, marahlah penduduk desa.
"Perbuatamu sangat bodoh!"kata mereka. "Kami telah menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga!"
Gembala itu meminta maaf, tapi diam-diam ia merasa puas karena tipuannya berhasil. Ia sangat senang!
"Jangan ulangi perbuatanmu,"seorang tua memperingatkannya. "Kalau nanti engkau betul-betul memerlukan pertolongan, tak seorangpun mau menolongmu."
Dengan masih marah penduduk desa meninggalkan gembala dan kembali ke lereng gunung.
Waktupun berlalu. Untuk beberapa lamanya gembala merasa kurang disukai oleh penduduk desa, tapi kemudian mereka memaafkannya dan segala sesuatunya kembali normal. Seperti biasa, setiap hari si gembala menggiring domba-domba ke atas gunung dan menjaganya sampai senja tiba, saat ia membawa domba itu kembali ke kandangnya di desa. Ia masih merasa hidup ini terlalu sepi untuknya, sendirian di atas gunung. Tapi ketika sedang merasa bosan ia ingat telah menipu penduduk desa, iapun tertawa terbahak-bahak.
Waktu berlalu dengan lambat, makin lama si gembala makin gelisah.
Kebosanannya hampir tak tertahankan. Ia bosan selalu memainkan lagu yang sama dengan suling yang dibawanya, tapi tak mampu menciptakan lagu-lagu baru. Dicobanya bernyanyi kepada domba-domba itu tapi tak ada yang memperhatikannya. Dicobanya merangkai bunga-bunga daisy, tapi sebentar saja jari-jarinya terasa sakit dan bunga-bunga itupun layu.
Iapun teringat, betapa lucunya melihat penduduk desa ke atas gunung sambil mengayun-ayunkan senjata ketika ia berteriak minta tolong. Alangkah senangnya melihat semua itu sekali lagi.
seperti yang telah dilakukannya, gembala itu turun sedikit ke lereng gunung lalu mulai berteriak sekencang-kencangnya: "SERIGALA!" teriaknya. "SERIGALA! TOLONG! SERIGALA!"
Jauh di desa, penduduk mendengar teriakan si gembala, tapi kali ini mereka ragu-ragu untuk pergi menolongnya. Orang-orang yang sedang bekerja di ladang saling berpandangan.
"Dengarlah panggilan si gembala," kata yang satu. "Apakah itu lelucon lagi?"
"Aku tidak yakin." kata yang lain. "Tetapi barangkali sekarang ia betul-betul dalam kesulitan." Dengan rasa segan akhirnya penduduk desa memutuskan bahwa mereka tidak dapat mengabaikan permintaan tolong si gembala.
Sekali lagi, mereka mengumpulkan apa saja yang dapat digunakan sebagai senjata lalu beramai-ramai mendaki gunung. Sesampainya di padang rumput merekapun berkeringat dan kelelahan. Tapi seperti sebelumnya, mereka menemui domba-domba itu sedang merumput dengan senangnya. Sedikitpun tak ada tanda-tanda dari serigala.
"Mana serigalanya?" Tanya seorang dari mereka. Tawa terbahak-bahak si gembala sudah menjelaskan segala sesuatunya. Seperti duluu, anak nakal itu telah menipu mereka.
Dulu penduduk desa sudah cukup marah karena ditipu, dan sekarang mereka benar-benar sangat marah.
"Kamu anak yang bodoh dan egois!" mereka berteriak. "Ini waktu panen, dan kami harus bekerja lebih keras di ladang, tetapi kamu telah menipu kami semua untuk datang ke sini!"
Sekali lagi gembala minta maaf, dan kali ini ia betul-betul minta maaf. Ia dapat melihat betapa marahnya penduduk desa, dan juga betapa lelahnya orang-orang yang sudah tua memanjat gunung.
"Saya sungguh menyesal telah menyusahkan kalian," katanya mengaku salah.
Tapi penduduk desa memandangnya dengan curiga. Mereka tidak percaya lagi kepadanya.
Lama sekali penduduk desa tidak mau berbicara kepada si gembala. Akhirnya dengan segan mereka mau berteman lagi dengannya. Tapi orang tua yang telah memberinya peringatan ketika ia pertama kali menipu, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih.
"Sekarang mungkin sudah terlambat," katanya.
Untuk beberapa minggu lamanya kehidupan di desa kembali seperti semula.
Kemudian pada suatu hari, ketika gembala sedang berbaring di padang rumput di suatu siang, dilihatnya pemandangan yang sangat mengerikan. Tidak hanya satu, tapi DUA ekor serigala yang sangat besar sedang berlari ke arah domba-domba sambil menggeram dan mengertakkan giginya.
Si gembala sangat ketakutan. Ia tahu dirinya tak akan dapat melawan binatang buas yang ganas itu. Ia segera bangkit dan lari ke bukit secepat mungkin.
Setelah cukup dekat ke desa sehingga suaranya dapat didengar, ia lalu berteriak sekencang-kencangnya.
"TOLONG! TOLONG! SERIGALA!"Teriakannya dapat didengar oleh orang-orang yang sedang bekerja di ladang, tapi tak ada satupun yang mempedulikannya.
"CEPAT KE SINI! MEREKA MENERKAM DOMBA-DOMBA!" teriaknya, cukup kencang sehingga seisi desa dapat mendengarnya. Tapi tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Si gembala terus berteriak tapi tak ada seorangpun yang percaya. Iapun kembali ke atas gunung. Ketika sampai di padang rumput didapatinya semua dombanya sudah mati sedangkan serigalanya sudah pergi. Dengan sedih gembala pulang sendirian ke desanya. Penduduk desa tidak akan mempercayainya lagi untuk menjaga domba-domba mereka. Terlalu sering ia berteriak "SERIGALA!"